Ads 468x60px

Selamat Datang di Blog Keperawatan, Materi PMR, dan Kesehatan
Tampilkan postingan dengan label Askep Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Fraktur

A. DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya di sebabkan oleh ruda paksa ( Arif Mansjoer, 2000 )
Fraktur adalah kerusakan pada kontinuitas tulang ( Sandra M, 2001 )
B. ETIOLOGI ( Arif mansjoer, 1999 )
Penyebab dari fraktur adalah sebagai berikut :
1)      Benturan dan cidera / trauma ( jatuh pada kecelakaan ).
2)      Kelemahan tulang akibat osteoporosis ( pada orang tua ) penderita kanker atau infeksi yang di sebut fraktur patologis.
3)      Fraktur stress atau fatigue fraktur akibat peningkatan drastic latihan pada seorang atlit atau pada permulaan aktivitas fisik baru sehingga kakuatan otot meningkat secara lebih cepat di bandingkan kekuatan tulang.

C. KLASIFIKASI ( Arif Mansjoer, 1999 )
1)    Berdasarkan komplit atau tidak komplitnya fraktur
a.   Komplit adalah bila garis patah melalui seluruh penempang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
b.  Tidak komplit adalah bila garis patah tidak melalui penampang tulang seperti :
Ø  Buckle Fraktur : Bila terjadi lipatan dari satu kortek dengan kompresi tulang sapongiosa di bawahnya.
Ø  Greenstick Fraktur : Fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak – anak ,korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosteum.
2)      Berdasarkan garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
a.       Fraktur Transversal : Fraktur yang garis patahnya tegak lurus                  terhadap sumbu panjang tulang.
b.      Fraktur Obliq : Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
c.       Fraktur Kompresi : Terjadi bila dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada di antaranya.
d.      Fraktur Elevasi : Memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligament
3)      Berdasarkan jumlah garis patah
a.       Fraktur Kominutif : Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
b.      Fraktur Segmental : Garis patah lebih dari satu tapi tidk berhubungan.
c.       Fraktur Multiple : Garis patah lebih dari satu tapi pada tulang berlainan tempat.
4)       Berdasarkan  pergeseran tulang
a.       Fraktur Undisplaced ( tidak bergeser ) : Tulang patah posisi normal.
b.      Fraktur Displaced ( bergeser ) : Ujung tulang yangpatah berjauhan dari tempat patah.
5)      Berdasarkan hubungan fragmen tulang dengan dunia luar
a.       Fraktur Tertutup ( Closed / Simple Fraktur ) : Bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
b.      Fraktur Terbuka ( Open / Compound Fraktur ) : Bila terdapat hubungan antara frgamen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.

Menurut R. Gustillo, fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu :
Ø  Derajat I  :- Luka  kurang dari 1 cm.
-  Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk.
-  Fraktur sederhana transversal, oblik / kominutif ringan
-  Kontaminasi minimal.
Ø  Derajat II : – Laserasi lebih dari 1 cm
-  Kerusakan jaringan lunak, tidak luas.
-  Kontaminasi sedang
Ø  Derajat III : – Terjadi kerusakan luas di kulit, otot, neurovaskuler.
Fraktur Derajat III terbagi atas :
a.       Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adequate meskipun ada laserasi
b.      Kehilangan bjaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar.
c.       Luka pada pembuluh arteri.
D. TANDA DAN GEJALA
Adapun tanda dan gejala fraktur adalah :.
1)      Rasa sakit atau nyeri.
Nyeri akan bertambah dengan gerakan dan penekanan di atas fraktur.
2)      Pembengkakan di sekitar fraktur
3)      Deformitas ( kelainan bentuk)
4)      Gangguan fungsi, ekstremitas tak dapat di gunakan.
5)      Dapat tejadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan yang mengisyaratkan kerusakan syaraf.
6)      Krepitasi ( suara gemeretak ) dapat terdengar sewaktu tulang di gerakkan
7)      Laserasi kulit.
8)      Jika terdapat luka terbuka, maka terdapat perdarahan.
9)      Shock karena nyeri hebat, kehilangan darah.
E. PATOFISIOLOGI
Fraktur terjadi bila ada interupsi dari kontinuitas tulang. Biasanya, fraktur di sertai cidera jaringan di sekitar yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persarafan.Fraktur bisa juga di sebabkan karena trauma ataupun karena suatu penyakit, missal osteoporosis. Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan fraktur dan akan mengakibatkan seseorang memiliki keterbatasan gerak, ketidakseimbangan dan nyeri pergerakan jaringan lunak yang terdapat di sekitar fraktur, missal pembuluh darah, saraf, dan otot serta organ lainnya yang berdekatan dapat di rusak. Pada waktu trauma ataupun karena mencuatnya tulang yang patah, apabila kulit sampai robek akan mengakibatkan luka terbuka dan akan mengakibatkan seseorang beresiko terkena infeksi.
Tulang memiliki banyak pembuluh darah ked lam jaringan lunak atau luka yang terbuka. Luka dan keluarnya darah dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Pada osteoporosis secara tidak langsung mengalami penurunan kadar kalsium dalam tulang. Dengan berkurangnya kadar kalsium dalam tulang lama – kelamaan tulang menjadi rapuh sehingga hanya trauma minimal saja atau tanpa trauma sedikitpun akan mengakibatkan terputusnya kontinuitas tulang yang di sebut fraktur.
Tingkatan pertumbuhan tulang :
1)      Hematoma Formation ( Pembentukan Hematoma )
Karena pembulih darah cedera maka terjadi pada daerah fraktur dan kedalam jaringan di sekitar tulang tersebut. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel – sel darah putih dan sel most terakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Darah menumpuk dan mengeratkna ujung – ujung tulang yang patah dan fagositosis dan pembersihan sisa –sisa sel mati dimulai.
2)      Fibrin Mesk Work ( Pembentukan Fibrin )
Hematom menjadi terorganisasi karena fibrablast masuk lokasi cidera, membentuk mesk work (gumpalan fibrin) dan berfungsi sebagai jala untuk melekatkan sel-sel baru.
3)      Invasi Osteoblast
Osteoblast masuk ke daerah fibrosis untuk mempertahnkan penyambungan tulang dan merangsang pembentukan tulang baru imatur ( callus ). Pembuluh darah berkembang mengalirkan nutrisi untuk membentuk collagen. Untaian collagen terus di satukan dengan kalsium.
4)      Callus Formation ( Pembentukan Callus )
a.       Osteoblast terus membuat jalan untuk membangun tulang.
b.      Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang baru.
c.       Collagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit kalsium.
5)      Remodelling
Bekuan fibrin di reabsorpsi dan sel – sel tulang baru secara perlahan mengalami tulang sejati. Tulang sejati menggantikan callus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlikan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau callua rusak sebelum tulng sejati terbentuk atau apabila sel – sel tulang baru rusak selam proses kalsifikasi dan pengerasan.
F. PROSEDUR DIAGNOSTIK
1)      Pemeriksaan Laboratorium
v  Hb, Hct sedikit rendah, di sebabkan perdarahan.
v  LED meningkat bila kerusakan jaringan emak sangat luas.
v  Peningkatan jumlah leukosit adalah respon stress norma; setelah trauma.
2)      Pemeriksaan Penunjang
v  Sinar X untuk melihat gambaan fraktur deformitas
v  CT – Scan untuk mmperlihatkan fraktur atau mendeteksi struktur fraktur
v  Venogram untuk menggambarkan arus vaskularisasi
v  Radiograf, untuk menentukan integritas tulang
v  Antroskopi, untuk mendeteksi keterlibatan sendi
v  Angiografi, bila dikaitkan dengan cedera pembuluh darah
v  Konduksi saraf dan elektromiogram, untuk mendeteksi cedera saraf
G. KOMPLIKASI
1)      Sindrom Kompartemen
Komplikasi inin terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruangan tertutup di otot yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat sehingga menyebabkan keusakan otot.
2)      Trombo Embolic Complication
Terjadi pada individu yang mobil dalam waktu yang lama.
3)      Infeksi
Paling sering menyertai fraktur terbuka dan dapat di sebabakan melalui logam bidai.
4)      Mal Union
Suatu keadaan di mana tulang yang patah telah embuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
5)      Osteomyelitis
Infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum atau korteks tulang dapat terbuka, luka tembus atau selama operasi.
6)      Cedera Vaskuler atau Saraf
Kedua organ ini dapat cedera akibat ujung patahan tulang yang tajam.
7)      Delayed Union – Non Union
Sambungan tulang yang terlambat dan tulang patah yang tidak menyambung kembali.
I. PENATALAKSANAAN
Fraktur biasanya menyertai trauma, untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas ( airway ), proses pernapasan ( breathing ) dan sirkulasi apakah terjadi syok atau tidak.
a.       Intervensi Terapeutik
Penatalaksanaan kadaruratan meliputi :
  • Pembebatan fraktur di atas dan di bawah sisi cenderung sebelum memindahkan pasien. Pembebatan / pembidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi komplikasi.
  • Memberikan kompres dingin, untuk menekan perdarahan, edema dan nyeri.
  • Meninggikan tungkai untuk menurunkan edema dan nyeri.
  • Kontrol perdarahan dan memberikan penggantian cairan untuk mencegah syok.
  • Fiksasi eksternal untuk menstabilkan fraktur komplek dan terbuka.
  • Pemasangan traksi untuk tulang panjang.
  • Traksi kulit : Kekuatan di berikan pada kulit dengan busa karet
  • Traksi skelet : Kekuatan yang di berikan pada tulang skelet secara langsung dengan menggunakan kawat pen.
b.      Intervensi Farmakologis.
  • Anestesi local, analgetik narkotik, relaksan otot, atau di berikanuntuk membantu pasien selama prosedur reduksi tertutup. Imobilisasi di lakukan dengan jangka waktu yang berbeda – beda. Fisioterapi untuk mempertahankan otot yang luka bila tidak dipakai dapat mengecil secara cepat. Setelah fraktur sembuh,mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul – betul telah kembali normal. Fungsi penyangga badan ( weight bearing) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus.
J. NURSING CARE PLAN
1.      Pengkajian
a.   Riwayat Keperawatan
-          Perawat perlu menentukan data biografi, riwayat terjadinya trauma
-          Obat – obatan yang sering di gunakan
-          Kebiasaan minum – minuman keras
-          Nutrisi, hoby, pekerjaan
b.  Pemeriksaan Fisik
-          Kaji seluruh system tubuh yang besar : kepala, dada, abdomen.
-          Inspeksi perubahan bentuk tulang, lokasi fraktur, gerakan pasien.
-          Integrasi kulit ( laserasi kulit, perubahan warna, perdarahan )
-          Nyeri, Neurosensasi
2.      Diagnosa Keperawatan
a.   Nyeri akut ybd. agen injuri fisik.
Definisi : Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional                  yang muncul secara actual / potensial kerusakan jaringan atau                                   menggambarkan adanya kerusakan serangan mendadak atau perlahan                         dari intensitas ringan sampai berat yang dapat di antisipasi atau di                  prediksi durasi kurang dari 6 bulan.
Tujuan : Nyeri dapat di minimalkan setelah di lakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil
Indikator Selalu Sering Kadangkadang Jarang Tidak pernah
Melaporkan nyeri 1 2 3 4 5
Mempengaruhi kondisi tubuh 1 2 3 4 5
Melaporkan frekuensi nyeri 1 2 3 4 5
Menunjukkan ekspresi nyeri 1 2 3 4 5
Menjaga posisi tubuh 1 2 3 4 5
Menunjukkan tekanan otot 1 2 3 4 5
Menunjukkan perubahan RR 1 2 3 4 5
Menunjukkan perubahan TD 1 2 3 4 5
Menunjukkan perubahan pupil 1 2 3 4 5
Berkeringat saat nyeri 1 2 3 4 5
Intervensi
-          Kaji ulang nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi
-          Observasi TTV per 8 jam
-          Berikan posisi nyaman ke klien
-          Observasi respon verbal dan non verbal tentang ketidaknyamanan
-          Ajarkan tekhnik relaksasi ( ex: napas dalam )
-          Laksanakan pemberian terapi analgesik
b.       Kerusakan Mobilitas Fisik ybd. kerusakan musculoskeletal.
Definisi : Keterbatasan dalam kebebasan untuk pergerakan fisik tertentu  pada bagian tubuh atau satu atau lebihekstremitas.
Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat di minimalkan setelah di lakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil :
Indikator Tergantung Perlu bantuan orang lain Perlu pengawasan Mandiri dengan bantuan orang lain Mandiri
Menunjukkan keseimbangna berdiri 1 2 3 4 5
Posisi tubuh saat berdiri 1 2 3 4 5
Melakukan pergerakan otot 1 2 3 4 5
Menunjukkan pergantian posisi 1 2 3 4 5
Ambulasi : berjalan 1 2 3 4 5
Ambulasi : kursi roda 1 2 3 4 5
Intervensi :
-          Observasi tingkat pergerakan klien
-          Awasi TD perhatikan keluhan pusing
-          Instruksikan klien dalam rentang gerak aktif pasif
-          Berikan bantuan dalam mobilisasi
-          Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
c.       Resiko Infeksi ybd. kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan.
Definisi : Peningkatan resiko masuknya organisme patogen
Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah di lakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil :
Indikator Selalu Sering Kadangkadang Jarang Tidak pernah
Menunjukkan bentuk penularan 1 2 3 4 5
Menunjukkan faktor penyebab penularan 1 2 3 4 5
Menunjukkan pengurangan penularan 1 2 3 4 5
Menunjukkan tanda dan gejala 1 2 3 4 5
Menunjukkan prosedur screening 1 2 3 4 5
Menunjukkan peningkatan aktivitas resisten 1 2 3 4 5
Intervensi :
-          Observasi TTV / 8 jam
-          Inspeksi kulit adanya eritema, drainage.
-          Jaga balutan tetap kering dan bersih
-          Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic.
-          Anjurkan pada klien dan keluarga untuk tidak memegangi luka.
-          Kolaborasi untuk pemberian anibiotik.
d.      Gangguan Pola Tidur ybd. posisi
Definisi : Keterbatasan waktu tidur ( alami, dalam periode singkat yang
secara relative sadar ) meliputi jumlah dan kualitas.
Tujuan : Pola tidur klien tidak terganggu setelah di lakukan tindakan
keperawatan.
Kriteria Hasil :
Indikator Tidak pernah cukup Jarang cukup Kadang cukup Sering cukup Salalu cukup
Jumlah jam tidur 1 2 3 4 5
Observasi pola tidur 1 2 3 4 5
Observasi kualitas tidur 1 2 3 4 5
Keefektifan tidur 1 2 3 4 5
Menunjukkan gangguan tidur 1 2 3 4 5
Menunjukkan tidur yang rutin 1 2 3 4 5
Perasaan segar setelah tidur 1 2 3 4 5
Tidur sebentar di siang hari 1 2 3 4 5
Terjaga beberapa waktu 1 2 3 4 5
Intervensi :
-          Kaji pola tidur klien
-          Observasi TTV / 8 jam
-          Kurangi kebisingan saat klien mau tidur
e.   Defisit self care: mandi, toileting tbd. gangguan musculoskeletal
Definisi : Gangguan kemampuan untuk melakukan tindakan hygiene
mandi dan toileting secara mandiri.
Tujuan : Klien mampu melakukan perawatan diri : mandi , toileting secara   mandiri setelah di lakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
Indikator Tergantung Perlu batuan orang lain Perlu pengawasan Mandiri dengan bantuan orang lain Mandiri
Dapat pergi ke kamar mandi sendiri 1 2 3 4 5
Mendapat suplay mandi 1 2 3 4 5
Memperoleh air 1 2 3 4 5
Mematikan air 1 2 3 4 5
Megatur temperature air 1 2 3 4 5
Mandi di bak mandi 1 2 3 4 5
Membasuh muka dan badan 1 2 3 4 5
Menggosok gigi 1 2 3 4 5
Mengeringkan tubuh 1 2 3 4 5
Dapat pergi ke toilet sendiri 1 2 3 4 5
Dapat memakai pakaian dalam sendiri 1 2 3 4 5
Dapat membersihkan alat kelamin sendiri 1 2 3 4 5
Dapat melepaskan pakaian dalam sendiri 1 2 3 4 5
Intervensi :
-          Observasi tingkat nyeri
-          Bantu klien dalam pemenuhan parawatan diri
-          Berikan privasi saat mandi atau toileting
-          Ajarkan untuk mencoba malkukan diri missal : mengusap muka, mengeringkan badan.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC, 2001
Doengoes, E. Marilyn. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC, 1999
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :                         EGC, 1999
Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius                            FKUI,1999
NANDA. Diagnosis Keperawatan 2000. Alih bahasa mahasiswa PSIK – FK
UGM Angkatan 2002
Nettina, Sandra . M. Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta : EGC, 2000
Ed. J. Marion, M. Maas, Sale Morhead. Nursing OutcomesClassification..
Second Edition, Mostby, St. Louis New York, 1996
Ed. Mc. Closkey, J. C. Gloria, M. Bulechek. Nursing Intervention Clasification.
Second Edition, Mostby, St. Louis New York, 1996
Baca Lagi >>

Neprolitiasis

A.    Definisi
Menurut Sjamsuhidrajat R, IW (2004) neprolitiasis adalah batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Sedangkan menurut Purnomo BB (2003) nefrolitiasis suatu penyakit yang salah satunya gejalanya adalah pembentukan batu dalam ginjal.

B.     Etiologi
Menurut Suyono, S., et.al (2001) menyebutkan beberapa penyebab nefrolitiasis adalah
1.      Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu
2.      Air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.
3.      Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi.
Smeltzer, S., et.al.ed (2000), ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.
Darlan (1999) menyebutkan beberapa faktor yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.
  1. Faktor intrinsik antara lain :
a)      Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
b)      Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
c)      Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan.
  1. Faktor ekstrinsik antara lain :
a.       Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt.
b.      Iklim dan temperatur
c.       Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi/.
d.      Diet : diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu
e.       Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.
C.     Patofisiologi
Batu ginjal selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR stadium. Batu ginjal didasarkan pada tingkat GFR (Glomarular Filtration Rate) yang tersisa dan mencakup :
1.      Penurunan fungsi ginjal dan cadangan ginjal
Yang terjadi bila GFR turun 50% dari normal (penurunan fungsi ginjal), tetapi tidak ada akumulasi sisa metabolik. Nefron yang sehat mengkonpensasi nefron yang sudah rusak dan penurunan kemampuan mengkonsentrasi urine, menyebkan nocturia dan poliuri. Pemeriksaan CCT 24 jam diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi ginjal.
2.      Trisufisiensi ginjal
Terjadi apabila GFR turun menjadi 20-35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima. Mulai terjadi akumulasi sisa metabolik dalam darah karena nefron yang sehat tidak mampu lagi mengkompensasi. Penurunan respon terhadap diuretic menyebabkan oligurasi edema. Derajat insufisiensi dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat, tergantung dari GFR, sehingga perlu pengobatan medis. (Corwin, 2001)
D.    Gambaran Klinis
Menurut Smeltzer (2000) menjelaskan beberapa gambaran klinis nefrolitiasis :
1.      Batu, terutama yang kecil (ureter), bisa tidak menimbulkan gejala.
2.      Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam.
3.      Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter.
Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. (Corwin, 2001)
Menurut Purnomo BB (2003), batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada penderita batu ginjal antara lain :
  1. Tidak ada gejala atau tanda
  2. Nyeri pinggang
  3. Hematuria makroskopik atau mikroskopik
  4. Pielonefritis dan/ atau sistitis
  5. Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing
  6. Nyeri tekan kostovetebral
  7. Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan
  8. Gangguan faal ginjal
E.     Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk penyakit nefrolitiasis terdiri dari :
1.      Radiologi
Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu ginjal sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa yang ditemukan.
2.      Ultrasonografi (USG) dilakukan pada pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan.
3.      IVP, yaitu pada keadaan-keadaan alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil.
4.      Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis).
5.      Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti.
6.      Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam
7.      Pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu.
8.      Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit.
Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd.
F.      Penatalaksanaan
Sjamsuhidrajat (2004) menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri dari :
1.      Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru.
2.      Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
3.      Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.
4.      Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat.
5.      Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi.
6.      Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Batu asam urat.
7.      Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.
8.      Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol.
9.      Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat.
10.  Dianjurkan untuk banyak minum air putih.
Sedangkan menurut Purnomo BB (2003), penatalaksanaan nefrolitiasi adalah :
1.      Terapi Medis dan Simtomatik
Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Tetapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.
2.      Litotripsi
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adaah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.
3.      Tindakan bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor tindakan bedah lain adalah niprolithomy adalah pengangkatan batu ginjal dengan adanya sayatan di abdomen dan pemasangan alat, alat gelombang kejut, atau bila cara non bedah tidak berhasil.

1.      Pengkajian
2.      Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus Niprolitrotomy
a.       Nyeri akut yang berhubungan dengan jaringan terhadap tindakan pembedahan
b.      Resiko infeksi yang berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme sekunder terhadap bedah.
c.       Kurang perawatan diri mandi yang berhubungan dengan nyeri
d.      Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
3.      Fokus intervensi
a.       Nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan terhadap tindakan pembedakan
1)      Tujuan: Klien mampu melaporkan level nyeri berkurang secara bertahap setelah dilakukan tindakan.
2)      Kriteria hasil
Indikator 1 2 3 4 5
Melaporkan nyeri




Frekuensi nyeri




Mengatakan nyeri




Ekspresi wajah terhadap nyero




Otot tegang




Perubahan RR




Perubahan TD




Protective body position




Ket :  1. Hebat
2. Kuat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
3)      Intervensi
Manajemen nyeri
a)      Laksanakan pemberian analgetik
b)      Manajemen lingkungan nyaman
c)      Manajemen nyeri
d)     Berikan posisi nyaman
e)      Monitor tanda-tanda vital
b.      Resiko infeksi yang berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme sekunder terhadap tindakan pembedahan.
1)      Tujuan : Klien mampu mendapatkan status imun adekuat selama dilakukan tindakan keperawatan
2)      Kriteria hasil
Indikator 1 2 3 4 5
Tidak tahu resiko




Monitor faktor resiko lingkungan




Monitor perilaku dan faktor resiko personal




Peningkatan strategi efektivitas untuk kontrol resiko




Monitor daerah jahitan dari tanda-tanda infeksi




Tanda-tanda vital dalam batas normal




Penggunaan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan




Mencegah pemajanan terhadap sesuatu yng mengancam kesehatan




Ket :  1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang-kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
3)      Intervensi
a)      Manajemen lingkungan
b)      Kontrol infeksi
c)      Lakukan medikasi
d)     Perawatan kulit
e)      Proteksi infeksi
1)      Monitor tanda-tanda infeksi
2)      Pertahankan teknik afektif
3)      Ajarkan pasien untuk menghindari infeksi
f)       Laksanakan pemberian antibiotik sesuai advice dokter
c.       Kurang perawatan diri mandi yang berhubungan dengan nyeri
1)      Tujuan : Klien mampu melakukan perawatan diri mandi secara mandiri setelah dilakukan tindakan keperawatan p
2)      Kriteria hasil
Indikator 1 2 3 4 5
Masuk dan pergi ke kamar mandi




Membasahi tubuh




Menggosok tubuh




Mandi secara mandiri




Ket :    1. Tergantung
2. Memerlukan bantuan orang lain
3. Memerlukan pengawasan
4. Mandiri dengan menggunakan alat
5. Mandiri
3)      Intervensi
a)      Bantu klien saat mandi
b)      Bantu klien membersihkan perineal
c)      Monitor kondisi kulit saat mandi
d)     Membasuh tangan setelah toeliting dan sebelum makan
e)      Bantu klien menggunakan deodorant/ parvum
d.      Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik.
1)      Tujuan : Klien mampu merespon tubuh sesuai dengan kebutuhan energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2)      Kriteria hasil
Indikator 1 2 3 4 5
HR DBN saat dan setelah aktivitas




RR DBN saat dan setelah aktifitas




Diastolik DBN setelah aktivitas




Sistolik DBN setelah aktivitas




Kekuatan




Kemampuan melakukan ADL




Kemampuan berbicara selama latihan




Ket :  1. Sering tidak sesuai
2. Sering tidak sesuai
3. Keadaan tidak sesuai
4. Jarang tidak sesuai
5. Sesuai
3)      Intervensi
Manajemen nyeri :
a)      Identifikasi keterbasan fisik pasien
b)      Identifikasi persepsi klien atau keluarga tentang penyebab kelelahan
c)      Dorong klien untuk mampu mengungkapkan keterbatasan fisiknya
d)     Identifikasi penyebab kelelahan misal karena program perawatan, nyeri atau pengobatan.
e)      Identifikasi apa dan berapa banyak aktivitas yang masih bisa dilakukan oleh klien.
Baca Lagi >>

Cidera Kepala

A. Pengertian
Menurut Tucker (1998 : 496) pengertian dari cidera kepala adalah adanya pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran.

B. Etiologi
Menurut Carolyn M. H. (1996 : 225) penyebab dari cidera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, jatuh dan benturan.
Klasifikasi :
1.      Cidera Kepala Ringan
a.       GCS 13 – 15
b.      Tidak ada kehilangan kesadaran
c.       Tidak adan infoksikasi alkohol atau obat terlarang
d.      Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
e.       Pasien dapat menderita abrasi, laserasi atau hematoma kulit kepala
f.       Tidak adanya kriteria cedera sedang berat.
2.      Cidera Kepala Sedang
a.       GCS 9 – 12
b.      Amnesia pasca trauma
c.       Muntah
d.      Tanda kemungkinan fraktur kranium (mata rabun, hematimpanum, otorea atau rinorea cairan serebrospinal)
e.       Kejang.
3.      Cidera Kepala Berat
a.       GCS 3 – 8
b.      Penurunan derajat kesadaran secara progresif
c.       Tanda neurologis fokal
d.      Cedera kepala penetrasi atau teraba farktur depresi kronium.

C. Manifestasi Klinis
Menurut Tucker (1998 : 406-407) tanda dan gejala yang muncul pada pasien cidera kepala yaitu :
  1. Perubahan tingkat kesadaran (lethargi sampai koma).
  2. Perubahan tingkah laku, seperti cepat marah, gelisah, bingung, kacau mental.
  3. Sakit kepala.
  4. Mual dan muntah.

D. Komplikasi
Menurut Hudak dan Gallo (1996 : 243-248) komplikasi cidera kepala adalah :
1.      Edema pulmonal
2.      Kejang
3.      Kebocoran cairan serebrospinal
4.      Hemorragi.
Baca Lagi >>

Tumor Gaster

Pengertian
Tumor gaster terdiri atas tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak dibagi atas tumor jinak epitel (benigna epithelial tumor) dan tumor jinak non epitel. Neoplasma jaringan ikat yang banyak ditemukan adalah tumor otot polos. Perangai tumor ini sulit diramalkan, dan sulit dibedakan antara tumor ganas dan jinak berdasarkan kriteria histologis. Salah satu gambaran yang mengarah ke jinak ialah ukurannya yang kecil, berkapsul, aktivitas mitolik yang rendah dan tidak ditemukan nekrosis (Underwood, 2000 : 439). Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2005 : 555) tumor jinak yang tersering ditemukan adalah polip dan leiomioma yang dapat membentuk adenomatosa hiperplastik, atau fibroid. Leiomioma yang merupakan tumor jinak otot polos lambung tidak bersimpai sehingga sulit dibedakan dari bentuk yang ganas (leiomiosarkoma) gambaran klinis dapat terjadi pada semua kelompok umur dan umumnya tumor ini tidak memberikan gejala klinis, kalaupun ada hanya berupa nyeri yang tidak sembuh dengan antasid. Pemeriksaan fisik tidak menemukan sesuatu kelainan, bila ditemukan kelainan perlu dipikirkan adanya karsinoma.


C.  Etiologi
Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1078) penyebab tumor gaster dimulai dari gastritis kronis menjadi atropi dan metaplasia intestinal sampai displasia premaligna, telah diketahui sebagai prekursor tumor gaster. Sejumlah mekanisme yang mungkin menghubungkan antara H. pylori dengan tumor gaster. Infeksi yang berlangsung lama menyebabkan atrofi kelenjar dan menurunnya produksi asam secara bertahap. Menurut Underwood (2000 : 440) yang menjadi penyebab tumor gaster adalah diet tinggi makanan asap, kurang buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan risiko terhadap tumor lambung. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden kanker lambung mencakup inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria, ulkus lambung, bakteri H. pylori, keturunan dan golongan darah A.

D.  Manifestasi Klinik
Menurut Soeparman (1998 : 114) menyatakan gejala klinis yang ditemukan tidak khas, dapat dalam bentuk keluhan nyeri epigastrium atau bila didapatkan komplikasi seperti perdarahan sukar di bedakan dengan perdarahan yang bersumber dari ulkus peptik. Gejala lain yang akan didapatkan adalah dalam bentuk akut abdomen, perdarahan saluran cerna bagian bawah atau gejala obstruksi. Menurut Brunner and Suddart (2002 : 1078) gejala awal dari tumor dan kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dimulai di kurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan gangguan fungsi lambung. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala pada pasien dengan ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dispepsia, penurunan berat badan, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah.

E.  Patofisiologi
Kanker dapat terjadi pada semua bagian lambung tetapi lebih sering ditemukan pada sepertiga distal. Kebanyakan kanker-kanker lambung adalah adeno karsinoma dan terjadi dalam bentuk-bentuk polypoid, ulseratif atau infiltratif. Bentuk ulseratif merupakan bentuk yang paling sering terjadi dan mungkin menampakkan gejala-gejala semacam ulkus peptikum, yang karenanya sering kali memperlambat diagnosis dan mendorong pasien untuk mengobati sendiri. Tumbuhnya kanker pada pintu masuk atau pintu keluar lambung dapat menimbulkan tanda-tanda obstruksi esofagus dan pilorus (nyeri ulu hati dan cepat kenyang). Pada umumnya bagaimanapun tanda-tanda awal dari kanker lambung tersebut tidaklah nampak. Kanker lambung dapat menyebar secara langsung melalui dinding lambung jaringan-jaringan yang berdekatan, ke pembuluh limfe, ke kelenjar limfe regional di lambung, ke organ-organ perut lain dan cenderung menyebar ke arah intraperitoneal. Prognosis tergantung pada dalamnya invasi dan tingkatan metastasis (Barbara C. Long, 1996 : 217).

F.   Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hadi (1999 : 271) pemeriksaan tumor gaster meliputi :
  1. Pemeriksaan fisik : berat badan, anemia, adanya massa.
  2. Perdarahan tersembunyi dalam tinja (occult blood) : tes benzidin.
  3. Sitologi dengan gastrofiberskop.
  4. Rontgenologik : posisi (terlentang, tengkurap dan oblik, serta kompresi).
  5. Gastroskopi : pemotretan isi lambung.
  6. Gastrobiopsi : pengambilan jaringan secara visual pada lesi.
  7. Fosfor radio aktif dan CT scanning.

G.  Komplikasi
Menurut Sudayo (2006 : 351) komplikasi dari tumor gaster adalah sebagai berikut :
  1. Perforasi
  2. Hematemesis
  3. Obstruksi  pada  bagian bawah  lambung  dekat   pilorus
  4. Adhesi
  5. penyebaran pada berbagai organ seperti hati, pankreas dan kolon.

H.  Penatalaksanaan
Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1081) tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat di eksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini paling efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi dapat diperoleh dengan reaksi tumor. Bila gastrektomi subtotal radikal dilakukan, puntung lambung di anastomosikan pada yeyenum, seperti pada gastrektomi untuk ulkus. Bila gastrektomi total dilakukan kontinuitas gastrointestinal di perbaiki dengan anastomosis pada organ vital lain seperti hepar, pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal. Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi dan disfagia. Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan kontrol lanjut terhadap penyakit dan paliasi.

I.    Fokus Pengkajian
Menurut Doenges (2000 : 997) dasar data pengkajian pasien antara lain :
1.   Aktivitas
Gejala    :   Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur malam hari, keterbatasan partisipasi dalam hobi, tingkat stress tinggi.
2.   Sirkulasi
Gejala    :   Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja
Tanda    :   Perubahan pada TD
3.   Integritas ego
Gejala    :   Masalah tentang perubahan dalam penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, kehilangan kontrol, depresi.
4.   Eliminasi
Gejala    :   Perubahan pada pola  BAB, perubahan eliminasi urinarius.
Tanda    :   Perubahan pada usus, distensi abdomen.
5.   Makanan atau cairan
Gejala    :   Kebiasaan diet buruk, anoreksia, mual atau muntah, intoleransi makanan, perubahan pada berat badan, berkurangnya massa otot.
Tanda    :   Perubahan pada kelembaban atau turgor kulit.
6.   Neurosensori
Gejala    :   Pusing, sinkope.
7.   Nyeri atau kenyamanan
Gejala    :   Tidak ada nyeri atau derajad bervariasi.
8.   Pernafasan
Gejala    :   Merokok, pemajanan asbes.
9.   Keamanan
Gejala    :   Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama.
Tanda    :   Demam, ruam kulit, ulserasi.
10. Seksualitas
Gejala    :   Masalah seksual, pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini.
11. Interaksi sosial
Gejala    :   Ketidakadekuatan atau kelemahan sistem pendukung masalah tentang fungsi atau tanggung jawab peran dan riwayat perkawinan.
12. Penyuluhan atau pembelajaran
Gejala    :   Riwayat kanker pada keluarga, penyakit metastatik, riwayat pengobatan.
Pemeriksaan diagnostik
  1. Scan dan ultrasound : identifikasi metastatik dan evaluasi respon pengobatan.
  2. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum) : untuk menggambarkan pengobatan.
  3. Penanda tumor untuk monitor kanker dan membantu mendiagnosis  kanker.
  4. Tes kimia skrining misalnya elektrolit, tes ginjal, tes hepar, tes tulang.
  5. JDL dengan diferensial dan trombosit : menunjukkan anemia. (Doenges, 2000 : 997)


J.   Pathway dan Masalah Keperawatan





K.  Fokus Intervensi
Dengan melihat pathway tumor gaster dan merumuskan diagnosa perawatannya, maka beberapa diagnosa perawatan tersebut menjadi fokus intervensi, antara lain menurut Brunner and Suddarth (2002) adalah :
1.   Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
Intervensi :
a.   Ciptakan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam.
b.   Berikan dorongan terhadap keluarga dalam mendukung pasien.
c.   Berikan keterangan dan dukungan tindakan koping positif.
d.   Anjurkan pasien tentang adanya prosedur dan pengobatan.
e.   Anjurkan pasien untuk mendiskusikan perasaan pribadi dengan orang pendukung.
2.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Intervensi :
a.   Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
b.   Berikan makanan yang tidak mengiritasi lambung.
c.   Berikan suplemen makanan yang tinggi kalori, vitamin A dan C, serta zat besi.
d.   Pantau kecepatan dan frekwensi terapi intravena.
e.   Catat masukan, haluaran dan berat badan tiap hari.
f.    Kaji tanda-tanda dehidrasi (haus, mukosa kering, turgor kulit kering).


3.   Nyeri berhubungan dengan adanya sel epitel abnormal.
Intervensi :
a.   Kaji intensitas, frekuensi, dan durasi nyeri.
b.   Anjurkan untuk periode istirahat dan relaksasi.
c.   Ajarkan tehnik untuk menghilangkan nyeri (imajinasi, distruksi, relaksasi, gosokan punggung, dan masase).
d.   Kolaborasi tentang pemberian analgetik sesuai resep.
Doenges (2000) juga menambahkan diagnosa yang muncul pada kanker lambung berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan sebagai berikut :
4.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.
Tujuan           :   Tanda-tanda infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil  :
a.       Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi.
b.      Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat waktu.
Intervensi :
a.   Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik dengan staf dan pengunjung.
b.   Tekankan higiene personal.
c.   Pantau suhu, dan tingkatkan istirahat adekuat.
d.   Kaji semua sistem terhadap tanda atau gejala infeksi secara kontinyu.
e.   Ubah posisi dengan sering : pertahankan linen kering dan bebas kerutan.
f.    Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
5.   Gangguan harga diri berhubungan dengan biofisikal : kecacatan bedah.
Tujuan           :   Gangguan harga diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil  :
a.       Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh.
b.      Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.
Intervensi :
a.   Dorong diskusi pecahkan masalah tentang efek kanker atau pengobatan.
b.   Akui kesulitan pasien yang mungkin dialami.
c.   Berikan dukungan emosi untuk pasien atau orang terdekat selama tes diagnostik.
d.   Gunakan sentuhan selama interaksi, bila dapat diterima pada pasien dan pertahankan kontak mata.
e.   Evaluasi struktur pendukung yang ada dan digunakan oleh pasien atau orang terdekat.
6.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
Tujuan           :   Kurang pengetahuan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.

Kriteria hasil  :
a.       Mengungkapkan informasi akurat tentang diagnosa dan aturan pengobatan pada tingkatan kesiapan diri sendiri.
b.      Melakukan perubahan gaya hidup yang perlu dan berpartisipasi dalam aturan pengobatan.
Intervensi :
a.       Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pemahaman diagnosa khusus.
b.      Berikan informasi yang jelas tentang kanker dan pengobatan kanker.
c.       Berikan pengobatan antisipasi pada pasien atau orang terdekat mengenai pengobatan.
d.      Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal.
e.       Anjurkan meningkatkan masukan cairan dan serat dalam diet serta latihan teratur.
7.   Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan.
Tujuan           :   Pasien dapat melakukan mobilisasi fisik secara optimal setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil  :   Meningkatnya atau memperhatikan mobilitas pada tempat paling tinggi yang mungkin, meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat mobilitas yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilisasi.
b.      Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik.
c.       Indikasikan pasien untuk bantu dalam rentang gerak pasif.
d.      Bantu dorong perawatan diri atau kebersihan.
e.       Berikan lingkungan yang aman.
Baca Lagi >>

FRAKTUR TERBUKA FIBULA

A.  Pengertian
Menurut Bare and Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Menurut Price and Wilson (1995 : 183) fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Menurut Doengoes (2000 : 761) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang yang dapat diklasifikasikan lebih dari seratus lima puluh faktur dan lima yang utama adalah sebagai berikut :

  1. Fraktur incomplete : fraktur yang hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang, salah satu sisi patah dan yang lainnya biasanya hanya bengkok (greenstick).
  2. Fraktur complete : fraktur yang garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
  3. Fraktur tertutup (simple) : fraktur tidak meluas melewati kulit.
  4. Fraktur terbuka (compound) : fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit di mana potensial terjadi infeksi.
  5. Fraktur patologis  : fraktur terjadi pada penyakit tulang (seperti : kanker, osteoporosis) dengan tidak ada trauma atau minimal.
Fraktur femur menurut Bare dan Smeltzer (2002 : 2376) adalah fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat. Bila bagian kaput kolum, atau trakanterik femur yang terkena, terjadilah fraktur panggul. Fraktur juga dapat terjadi pada batang femur dan di daerah lutut. Paling sering terjadi pada penderita yang berusia di atas 50 tahun. Bila telah terjadi perpindahan fragmen, ekstremitas tersebut berada dalam keadaan rotasi eksterna aduksi. Pemendekan ekstremitas biasanya nyata. Pergerakan artikulasio koksea menyebabkan rasa sakit.

B.  Etiologi
Menurut Bare and Smeltzer (2001 : 2357) penyebab dari fraktur adalah dikenalnya tulang dengan stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya, pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan putir, mendadak dan kontraksi otot ekstrim. Menurut Apley (1995 : 238) penyebab dari terjadinya fraktur antara   lain :  adanya peristiwa trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang atau kelemahan abnormal pada tulang (frakur patologik).
Menurut Bare and Smeltzer (2002 : 2376) ada insidensi tinggi fraktur panggul pada lansia, yang tulangnya biasanya sudah rapuh karena osteoporosis (terutama wanita) dan yang cenderung sering jatuh kelemahan otot kwadrisep, kerapuhan umum akibat usia, dan keadaan yang mengakibatkan penurunan perfusi arteri ke otak (serangan iskemi, transien, anemia, emboli dan penyakit kardiovaskuler, efek obat) berperan dalam insidensi terjadinya jatuh. Pasien mengalami fraktur panggul sering mempunyai kelainan medis yang berhubungan (misal : kardiovaskuler, pulmonal, renal, endokrin).
Fraktur panggul dianggap oleh pasien dan keluarga merupakan bencana yang akan mengakibatkan efek negatif pada gaya hidup pasien dan kualitas hidupnya.

C.  Manifestasi Klinis
Menurut Doengoes (2000 : 761) tanda dan gejala dari fraktur antara lain keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang fraktur, hipertensi, takikardia, spasme otot, deformitas lokal (angulasi abnormal, krepitasi) nyeri berat, laserasi kulit, perdarahan, perubahan warna dan pembengkakan lokal.
Menurut Bare and Smeltzer (2001 : 2358) manifestasi klinis pada fraktur antara lain :
  1. Nyeri terus-menerus
  2. Kehilangan fungsi
  3. Pada fraktur terjadi pemendekan tulang
  4. Kepitus
  5. Pembengkakan dan perubahan warna
Gambaran klinis pada fraktur kolum femur, tungkai akan mengalami pemendekan adduksi dan rotasi eksterna. Pasien akan mengeluh nyeri ringan pada selangkangan atau disisi medial lutut. Pada kebanyakan fraktur folum femur pasien tidak mampu menggerakkan tungkai tanpa peningkatan nyeri dan dapat merasa lebih nyaman bila tungkai sedikit difleksikan dalam rotasi eksternal. Fraktur kolum femur inpaksi mengakibatkan nyeri sedang meskipun pada gerakan memungkinkan pasien masih bisa melakukan pemendekan dan perubahan yang jelas.

D.  Anatomi dan Patologi
Fraktur kolum femur paling sering terjadi pada penderita yang berusia di atas 50 tahun. Bila terjadi perpindahan fragmen, ekstremitas tersebut berada dalam keadaan rotasi eksterna dan adduksi. Pemendekan ekstremitas biasanya nyata. Pergerakan artikulasio kokse menyebabkan rasa sakit. Bila fraktur tersebut impacted dalam posisi valgus ekstremitas yang cidera mungkin lebih panjang dari pada sisi yang berlawanan dan rotasi eksterna secara aktif mungkin tidak dapat dilakukan. Bila fragmennya tidak berpindah tempat dan frakturnya stabil, rasa sakit pada gerakan ekstrim panggul secara pasif mungkin merupakan satu-satunya penemuan yang penting. Fakta bahwa pasien tersebut dapat menggerakkan ekstremitasnya secara aktif sering mempersulit diagnosa yang tepat.
Sebelum terapi diberikan buatlah foto anteroposterior dan lateral yang berkualitas baik. Traksi dan rotasi interna dari ekstremitas tersebut yang dilakukan dengan berhati-hati sementara membuat foro anteroposterior dapat memberikan hubungan fragmen-fragmen yang lebih baik untuk memperlihatkan arah garis fraktur.

E.  Patofisiologi
Penyebab dari terjadinya fraktur antara lain karena adanya trauma dan kelemahan abnormal pada tulang (Apley, 1995 : 235). Jika satu tulang sudah pata, maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak dan dapat menembus kulis sehingga dapat terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur. Cidera yang terjadi juga dapat menimbulkan spasme otot dan adanya luka terbuka yang mengakibatkan terpotongnya ujung-ujung syaraf bebas sehingga merangsang dikeluarkannya bradikinin dan serotinin sehingga menimbulkan nyeri. Rusaknya jaringan lunak di sekitar patah tulang dan terpisahnya periostium dari tulang menimbulkan perdarahan yang cukup berat sehingga membentuk bekuan darah yang kemudian menjadi jaringan granulasi di mana sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi osteoblast dan kondroblast yang akan mensekresi fosfat yang merangsang deposit kalsium sehingga terbentuk lapisan tebal (kalus) yang terus menebal, meluas dan bersatu dengan fragmen tulang menyatu. Kalus tulang akan mengalami remodelling dimana osteoblas akan membentuk tulang baru yang akhirnya menjadi tulang sejati (Price and Wilson, 1995 : 1186 – 1187).




F.   Pathway




G.  Fokus Pengkajian
Menurut Doengoes (2000 : 761) fokus pengkajian pada pasien dengan fraktur adalah sebagai berikut :
1.   Aktifitas / istirahat
Tanda      :   Keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan dan nyeri).
2.   Sirkulasi
Tanda      :   Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri atau ansietas) da hipotensi (kehilangan darah), takikardia (respon stress, hipovolemia) penurunan nadi atau tidak ada nadi pada bagian yang cidera, pembengkakan jaringan atau massa, hematoma pada sisi cidera.
3.   Neurosensori
Gejala      :   Hilang gerakan atau sensasi, spasme otot, babas kesemutan.
Tanda      :   Dedormitas lokal angulasi, abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, (bunyi berderik), spasme otot, kelemahan atau kehilangan fungsi, agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri atau ansietas dan trauma lain).
4.   Nyeri / kenyamanan
Gejala      :   Nyeri berat tiba-tiba saat cidera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan atau kerusakan tulang dapat berkurang pada immobilisasi), tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf, spasme atau kram otot (setelah immobilisasi).
5.   Penyuluhan / pembelajaran
Gejala      :   Lingkungan cidera.
6.   Keamanan
Tanda      :   Laserasi kulit, ovolsi jaringan, perdarahan, perubahan warna, pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

H.  Fokus Intervensi
Menurut Doengoes (2000 : 762) fokus intervensi pada pasien dengan fraktur adalah sebagai berikut :
1.   Resiko tinggi terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur).
Tujuan   :   Resiko trauma (tambahan tidak terjadi).
Kriteria hasil :
Intervensi :
a.       Pertahankan tirah baring atau ekstremitas sesuai indikasi, berikan sokongan sendi di atas dan di bawah fraktur bila bergerak atau membalik.
b.      Letakkan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik.
c.       Sokong fraktur dengan bantal atau gulungan selimut, pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.
d.      Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema.
e.       Kolaborasi : kaji ulang foto.
f.       Berikan atau pertahankan stimulasi listrik bila diperlukan.
2.   Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang cidera pada jaringan lunak.
Intervensi :
a.       Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, pembebat.
b.      Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
c.       Tinggikan penutup tempat tidur : pertahankan linen terbuka pada jari kaki.
d.      Latihan rentang gerak aktif dan pasif.
e.       Berikan alternatif tindakan kenyamanan.
f.       Ajarkan teknik manajement stress.
g.      Kolaborasi pemberian obat dan kompres digin sesuai indikasi.
3.   Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah, cidera vaskuler langsung pembentukan trombus.
Tujuan   :   Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer tidak terjadi.
Intervensi :
a.       Lepaskan perhiasan ari ekstremitas yang sakit.
b.      Evaluasi kualitas nadi perifer, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal terhadap cidera.
c.       Lakukan pengkajian neuromuskuler dan tes sensasi saraf perifer.
d.      Pertahankan peninggian ekstremitas yang cidera kecuali dikontraindikasikan.
e.       Awasi tanda vital, tanda-tanda pucat atau sianosis.
f.       Kolaborasi : pemberian kompres, bebat, spalk sesuai kebutuhan.
4.   Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah atau emboli lemak, perubahan alveolar atau kapiler.
Tujuan   :   Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
Intervensi :
a.       Awasi frekuensi pernafasan atau auskultasi bunyi nafas.
b.      Atasi jaringan cidera, atau tulang dengan lembut.
c.       Kolaborasi : beri terapi oksigen.
d.      Kolaborasi : awasi pemeriksaan GDA, kalsium, Hb dan LED.
5.   Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromusker : nyeri atau ketidaknyamanan.
Tujuan   :   Mobilitas fisik efektif
Intervensi :
a.       Kaji derajat immobilisasi dan dorong aktifitas terapeutik.
b.      Berikan papan kaki, bebat dan ubah posisi secara periodik.
c.       Bantu atau dorong perawatan diri atau kebersihan.
d.      Berikan diit tinggi protein, karbohidrat, vitamin, mineral.
e.       Kolaborasi : konsul dengan ahli terapi fisik, rehabilitasi.
6.   Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan cidera rusuk, fraktur terbuka, bedah, perbaikan, pemasangan traksi.
Tujuan   :   Resiko tinggi kerusakan integritas kulit atau jaringan tidak terjadi.
Intervensi :
a.       Kaji kulit untuk luka terbuka.
b.      Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan ubah posisi dengan sering.
c.       Bersihkan kulit dengan sabun dan air.
d.      Observasi untuk potensial area yang tertekan.
e.       Instruksikan pasien atau orang terdekat untuk menghindari masukan obyek ke dalam gips.
f.       Kolaborasi : buat gips dengan katup tunggal, ganda tau jendela sesuai protokol.
7.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan.
Tujuan   :   Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
a.       Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.
b.      Observasi luka untuk pembentukan gula, krepitasi, perubahan warna kulit.
c.       Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan berbicara.
d.      Selidiki nyeri tiba-tiba.
e.       Kolaborasi : pemeriksaan lab (darah lengkap, LED)
8.   Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan   :   Pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan penyakitnya
Intervensi :
a.       Kaji pengetahuan pasien tulang kondisi, prognosis, pengobatan penyakitnya.
b.      Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
c.       Diskusikan tindakan yang akan dilakukan.
d.      Beri penyuluhan mengenai kondisi prognosis pengobatan.
e.       Libatkan keluarga dalam pemberian penyuluhan.
Baca Lagi >>

Kista

Definisi
Kista adalah rongga patologis yang biasanya berdinding jaringan ikat dan berisi cairan kental atau semi likuid, dapat berada dalam jaringan lunak ataupun keras seperti tulang. Rongga kista di dalam rongga mulut selalu dibatasi epitel.
Kista periapikal adalah kista yang terbentuk pada ujung apeks (akar) gigi yang jaringan pulpanya sudah nonvital/mati. Kista ini merupakan lanjutan dari pulpitis (peradangan pulpa). Dapat terjadi di ujung gigi manapun, dan dapat terjadi pada semua umur. Ukurannya berkisar antara 0.5-2 cm, tapi bisa juga lebih. Bila kista mencapai ukuran diameter yang besar, ia dapat menyebabkan wajah menjadi tidak simetri karena adanya benjolan dan bahkan dapat menyebabkan parestesi () karena tertekannya syaraf oleh kista tersebut.

Gbr. Ilustrasi kista periapikal pada ujung apeks gigi
Kista ini tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali kista yang terinfeksi. Pada pemeriksaan radiografis, kista periapikal memperlihatkan gambaran seperti dental granuloma yaitu lesi radiolusen berbatas jelas di sekitar apeks gigi yang bersangkutan.
Gbr. Gambaran radiograf sisa akar gigi yang pada ujungnya terdapat kista.
Perhatikan batas kista yang jelas, berupa garis putih. Hal inilah yang membedakan kista periapikal dengan dental granuloma.
Perbedaan mendasarnya adalah adanya epitel yang membatasi rongga kista. Gigi yang bersangkutan dengan kista ini biasanya tanpa gejala atau keluhan. Namun kadang kala batas ini tidak terlalu jelas sehingga diagnosa kista sulit ditegakkan. Bila demikian perlu dilakukan pemeriksaan histologis.
Penyebab
Kista ini disebabkan oleh berlanjutnya peradangan yang awalnya terjadi pada pulpa, yang kemudian meluas hingga jaringan periapikal di bawahnya.
Gambaran mikroskopis
Secara mikroskopis, kista radikuler dibentuk oleh dinding jaringan ikat kolagen matang. Jaringan ikat ini menjadi kerangka dasar atau stroma dari kebanyakan kista yang lokasinya ada di rongga mulut. di bagian dalam dinding kista dapat ditemukan banyak fibroblast yang merupakan sel dasar dari jaringan ikat.
Kista mengandung sel radang dalam jumlah yang bervariasi. Sel di dalam infiltrat yang paling banyak dijumpai adalah limfosit, dengan ciri khas inti yang berwarna gelap. Sel plasma juga banyak terdapat di dalam dinding kista, dan kebanyakan dijumpai pada kista yang  kronik. Selain itu, ditemukan juga eritrosit, giant cell, dan kristal kolesterol.
Perawatan
Perawatan terdiri dari perawatan saluran akar, atau pencabutan gigi yang bersangkutan kemudian kista dikuretase.
Baca Lagi >>

Meningitis

Defenisi
Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis.
Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid.
Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melaui aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.
Etiologi
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa.
Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, Nersseria,Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.


Pencegahan
Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik faktor presdis posisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor atau janis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.
Pengkajian Pasien dengan meningitis
Riwayat penyakit dan pengobatan
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Setelah itu yang perlu diketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor presdiposisi seperti infeksi saluran napas, atau fraktur tulang tengkorak, dll.
Manifestasi Klinik
  • Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
  • Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.
  • Sakit kepala
  • Sakit-sakit pada otot-otot
  • Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
  • Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI
  • Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.
  • Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak terdapat pada virus meningitis.
  • Nausea
  • Vomiting
  • Demam
  • Takikardia
  • Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia
  • Pasien merasa takut dan cemas.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra kranial. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa.
Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal.
Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.
Pemeriksaan Radiografi
CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
Pengobatan
Pengobatab biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai.
Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis :
Antibiotik Organisme

Penicilin G  Gentamicyn
Chlorampenikol
Pneumoccocci  Meningoccocci
Streptoccocci
Klebsiella
Pseudomonas
Proleus
Haemofilus Influenza
Terapi TBC 
  • Streptomicyn
  • INH
  • PAS
Micobacterium Tuber culosis
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :
Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
Tujuan
  • Pasien kembali pada,keadaan status neurologis sebelum sakit
  • Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris
Kriteria hasil
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • Rasa sakit kepala berkurang
  • Kesadaran meningkat
  • Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.
Rencana Tindakan
INTERVENSI RASIONALISASI
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS. Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt
Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Resoirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
Monitor intake dan output hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral
Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur. Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava
Kolaborasi  Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.   Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral
Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.   Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunka metabolik sel / konsumsi dan kejang.


Sakit kepala sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
Tujuan
Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol
Kriteria evaluasi
  • Pasien dapat tidur dengan tenang
  • Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.
Rencana Tindakan
INTERVENSI RASIONALISASI
Independent  Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang   Menurukan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat
Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak
Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / disconfort
Kolaborasi  Berikan obat analgesik   Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.
Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
Tujuan:
Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran
Rencana Tindakan
INTERVENSI RASIONALISASI
Independent  monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya   Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. Melindungi pasien bila kejang terjadi
Pertahankan bedrest total selama fae akut Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi
Kolaborasi  Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll.   Untuk mencegah atau mengurangi kejang.
Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
  • Donnad, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991
  • Kapita Selekta Kedokteran FKUI, Media Aesculapius, 1982
  • Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984
Baca Lagi >>